Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Unen-unen: Ungkapan Penuh Makna bagi Masyarakat Jawa

Paribasan, Cangkriman, Sanepa, Bebasan, Parikan , Wangsalan dan Isbat (ambarisna.com)

Beberapa diantara kita pasti pernah mendengar tentang unen-unen atau ungkapan bahasa Jawa, seperti paribasan, saloka, isbat dan lain sebagainya. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas ungkapan – ungkapan tersebut serta hal lain yang masih berkaitan.

Berbicara unen-unen, kita tidak bisa lepas dari namanya kebudayaan. Dulu, sebelum mengenal tentang pendidikan formal (tulis-menulis) orang Jawa menyampaikan petuah nasihatnya secara lisan. Nah, dari sarana lisan inilah kemudian melakhirkan unen-unen.

Ungkapan unen-unen ini berasal dari kata uni + an yang berarti bunyi. Ungkapan ini tidak ketahui siapa pencetusnya atau lahir di tengah masyarakat tanpa diketahui siapa penciptanya.

baca juga: Pengertian Geguritan: Contoh dan Cara Penulisannya

Jenis Ungkapan dalam bahasa Jawa

Paribasan

Berdasarkan kamus bausastra karangan Poerwadarminto, paribasan merupakan ungkapan bahasa Jawa yang memiliki makna kias namun tidak menggunakan kalimat perumpamaan. Bahasa yang digunakan adalah lugas, tidak menggunakan makna konotasi. 

Contoh:

  • Anak polah bapak kepradah memiliki arti anak sing polahe akeh, mesthi bakal gawa jenenge wong tuwane, wong tuwa melu kena getahe (jika anak bertindak salah, maka orang tua menjadi repot).
  • Busuk ketekuk, pinter keblinger memiliki arti bahwa orang pintar dan orang bodhoh sama celakanya.
  • Ciri wanci bilahi ginawa mati memiliki arti ciri-sifat sing ala bakal digawa mati (kebiasaan yang buruk akan dibawa sampai meninggal)
  • Desa mawa cara, negara mawa tata memiliki arti saben daerah duwe adat lan cara dhewe utawa ora padha (setiap daerah memiliki adat istiadat yang tidak sama satu sama lain).
  • Emban cindhe emban siladan memiliki arti ngrumat kain sutra ngrumat anyaman menjalin (pilih kasih)


Cangkriman

Cangkriman merupakan ungkapan bahasa Jawa yang berisi tebak tebakan. Cangkriman berisi kata – kalimat yang harus ditebak (dibatang) maksudnya, karena kata – kalimat tersebut bukan makna sebenarnya.

Cangkriman ada 3 macam, yaitu cangkriman dalam tembang, cangkriman wancah (singkatan) dan cangkriman pepindhan (perumpamaan).

Cangkriman dalam tembang biasanya berada dalam tembang macapat pocung. Contoh:

Bapak pocung, yen disawang ana dhuwur
Mudhun ing bandara
Penumpange ngati-ati
Yen kanggonan, bisa ning negara manca

Jawabannya: pesawat / motor mabur

Cangkriman wancah adalah cangkriman berupa singkatan atau akronim. Contoh:

  • Dhewa daru memiliki kepanjangan gedhe dawa aja saru yang berarti besar panjang jangan saru/tabu.
  • Pakbo letus memiliki kepanjangan tipak kebo lelene satus yang berarti tapak kaki kerbau ada ikan lele 100.
  • Pak lawa memiliki kepanjangan tepak ula dawa yang berarti bekas ular panjang.

Cangkriman pepindhan atau perumpamaan adalah tebak-tebakan atau kuis dengan kalimat perumpamaan. Contoh: 

  • Anake dielus-elus, mbokne dipidak (anaknya dipegang, ibunya diinjak) jawabannya adalah orang naik tangga.
  • Pitik walik saba meja (ayam terbalik main di meja) jawabannya adalah sulak, kemoceng.
  • Gajah nguntal sangkrah (gajah memakan ranting) jawabannya pawon atau perapian.


Sanepa/sanepan

Sanepa merupakan ungkapan yang terdiri kata sifat dan kata benda. Isi dari sanepa adalah kebalikan ungkapan tersebut. Contoh:

  • Esemane pait madu (senyumannya pahit madu) memiliki arti kalau senyumannya manis sekali.
  • Pawakane dhuwur kencur (tubuhnya lebih tinggi kencur) artinya badannya sangat pendek.
  • Rasane legi bratawali (rasanya lebih manis jamu bratawali) artinya rasanya sangat pahit.


Bebasan dan Saloka

Bebasan dan saloka adalah ungkapan bahasa Jawa yang mirip. Perbedaan dari kedua ungkapan ini adalah perumpamaan objeknya. Saloka mengedepankan pelakunya, sedangkan bebasan lebih mengedepankan keadaah yang dikiaskan. 

Contoh Bebasan

  • Wis kebak sundukane (wis akeh dosane) sudah banyak dosanya
  • Ngiyup ngisor awar-awar yang berarti meminta tolong kepada orang lemah.
  • Cebol nggayuh lintang: sesuatu yang tidak mungkin

Contoh Saloka

  • Gajah ngidak rapah: seseorang berkuasa yang melanggar aturan yang telah dia buat untuk masyarakat.
  • Sumur lumaku tinimba (sumur berjalan ditimba) orang yang buru-buru disuruh mengajari.
  • Kebo nusu gudel (kerbau menyusu anaknya) orang tua yang minta diajari anaknya


Parikan 

Parikan/ pantun bahasa Jawa merupakan ungkapan yang memiliki aturan tetap. Parikan mempunyai ciri sebagai berikut. 

  1. Jumlah suku kata kalimat pertama dan kedua harus sama.
  2. Kalimat paling depan adalah sampiran, sedang kalimat selanjutnya adalah isi.
  3. Vokal pada akhir kalimat pertama harus sama dengan kalimat kedua atau memiliki sajak a-b-a-b.
  4. Parikan bisa terdiri atas 2 kalimat atau 4 kalimat.

contoh:

Budhal esok ngundhuh pari
Jeneng lakon menang keri

Papan wayah esok sore
Bocah lanang wani dhewe

Ning pasar tuku roti
Rotine roti tawar
Ora papa lara ati
Penting aku ora liar


Wangsalan

Wangsalan yaitu ungkapan yang mirip dengan cangkriman. Bedanya jawaban dari wangsalan sudah disampaikan (memilki petunjuk jawaban). Hanya saja, petunjuk jawaban ini masih samar, tidak disampaikan dengan jelas – disebutkan satu suku kata atau lebih.

contoh:

  • Jenang gula, kowe aja lali memiliki jawaban gulali. Jawaban ini terdapat pada akhir kalimat pertama dan suku kata kalimat terkahir.
  • Mbalung klapa, geleme mung ethok – ethokan memiliki jawaban bathok (tempurung kelapa). Petunjuknya adalah suku kata thok pada kata ethok.


Isbat 

Isbat berasal dari bahasa arab ibarat. Isbat merupakan ungkapan bahasa Jawa berupa ibarat yang sarat dengan alam ghaib, ilmu kasampurnan, ilmu kebatinan. Jadi, isbat itu merupakan perumpamaan yang berisi ilmu tinggi, ilmu batin juga ilmu tentang kesempurnaan. Contoh:

Golek banyu apepikulan warih memiliki arti mencari air dengan memikul air

Golek geni adedamar memiliki arti mencari api dengan api

Kodhok ngemuli lenge memiliki arti katak menyelimuti lubangnya

Nggoleki galihing kangkung memiliki arti mencari inti dari sayut kangkung

Nggoleki isining bumbung wungwang memiliki arti mencari isi dari kekosongan bambu

Nggoleki susuhing angin memiliki arti mencari sarang angin

Nggoleki tapaking kuntul nglayang memiliki arti mencari bekas burung kuntul terbang

Nggoleki wekasaning langit memiliki arti mencari ujungnya langit

Contoh isbat di atas, sangatlah dalam artinya. Kedalaman arti tersebut membuat isbat disebut dengan uangkapan makrifat dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahui artinya.

mungkin anda tertarik: Kumpulan Soal SD Terbaru

Demikian pembahasan tentang Unen-unen: Ungkapan Penuh Makna bagi Masyarakat Jawa. Jika kurang lengkap, silakan tinggalkan komentar di bawah. 

Maturnuwun. Salam.


Posting Komentar untuk " Unen-unen: Ungkapan Penuh Makna bagi Masyarakat Jawa"