Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Geguritan, Ciri, Jenis, Parafrase, Teknik Baca tulis beserta Contohnya

Geguritan: Pengertian, Ciri, Jenis, Parafrase, Teknik Membaca dan Menulis serta Contohnya


ambarisna.com - Pada zaman sekarang ini banyak yang menganggap bahasa Jawa itu susah, membosankan dan kuno. Apa kalian juga punya pemikiran yang sama? ambarisna.com berharap kalian jangan sampai mempunyai pikiran yang demikian karena bahasa Jawa itu bahasa yang adiluhung dan memuat nasehat-nasehat orang tua kita terdahulu. Oleh karena itu, kalian harus menjaga melestarikan bahasa Jawa sebagai wujud rasa syukur kepada Gusti, agar bahasa Jawa tidak dipelajari dan diakui oleh orang mancanegara. 

Hasil karya sastra berbahasa Jawa banyak sekali, salah satunya yaitu geguritan. Mempelajari geguritan itu menyenangkan. Oleh karenanya, dalam kesempatan ini kalian diajak belajar tentang geguritan. Apa definisi geguritan? Apa saja unsur pembangun geguritan? Bagaimana cara menulis dan membaca geguritan yang benar? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari perhatikan artikel di bawah ini.

 baca juga: Kumpulan Latihan Soal UAS Semester 1 Kelas XII SMA

1. Pengertian Geguritan

Geguritan adalah salah satu karya sastra jawa yang berwujud puisi. Kata geguritan berasal dari kata gurit yang memiliki arti tembang atau syair. geguritan merupakan wujud dari pikiran atau gagasan penulis. Bahasa yang digunakan dalam geguritan itu bahasa rinengga atau hiasan, figuratif yang indah serta bersifat konotatif, simbolis, dan memiliki lambang atau sandi karena menggambarkan imajinasi penulisnya. Bahasa didalam buritan tidak terikat kaidah bahasa secara umum. Menulis geguritan mempunyai kelonggaran dan bebas dari kaidah bahasa yang disebut lisensia puitika.

 baca juga: Unsur-unsur Pawarta, berita dalam bahasa Jawa

1) Unsur-unsur Pembangun Geguritan

Geguritan termasuk ciptaan atau karya sastra yang memiliki gaya baca berbeda tergantung isi dari geguritan tersebut. Ada yang menyebut geguritan itu syair jawa baru atau puisi jawa gagrak anyar. Unsur-unsur pembangun yang ada dalam geguritan ada dua yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.

a. Unsur intrinsik

Unsur intrinsik geguritan adalah unsur yang bisa ditemukan dan dilihat dalam geguritan tersebut. Unsur geguritan meliputi:

1. Tema yaitu masalah utama yang diangkat di dalam geguritan.

2. Amanat yaitu pitutur, nasihat dan falsafah yang akan disampaikan penulis kepada pembaca.

3. Nada dan rasa yaitu rasa pangrasa atau perasaan yang dialami penulis yang digambarkan di dalam geguritan

4. Diksi yaitu pemilihan kata yang indah dalam geguritan

5. Rima yaitu pengolahan suara untuk mewujudkan keindahan yang ada dalam geguritan

6. Ritmik atau ritme yaitu panjang pendek, tinggi rendahnya nada ketika geguritan itu dilisankan atau dibaca

b. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik yaitu unsur pembangun geguritan yang berupa keadaan subjektivitas penulis tentang cara pengiasan penulis serta sebab musabab penulis menciptakan geguritan tersebut. Unsur intrinsik dapat berupa keadaan social, psikologi, ekonomi bahkan pendidikan dari penulis tersebut. Singkatnya, unsur ekstrinsik adalah unsur yang melatarbelakangi penulis melahirkan karya sasta geguritan.

 

2) Ciri-ciri Geguritan

Untuk membedakan dengan karya sastra lain, geguritan mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri geguritan secara umum yaitu

1. tidak memiliki atau menggunakan patokan/ pedoman tertentu.

2. bukan bahasa sehari-hari. Bahasa yang digunakan dalam geguritan bukanlah bahasa sehari-hari. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi patokan khusus. Sebab, di zaman modern ini banyak geguritan yang sudah menggunakan bahasa sehari-hari.

3. menggunakan kata-kata yang terpilih atau pilihan diksi yang tepat.

4. jumlah baris tidak ditentukan. Berbeda dengan tembang atau syair macapat yang punya patokan, jumlah baris dalam geguritan lebih bebas.

5. isinya bermutu,

6. jarang menggunakan kata hubung

baca juga: Deskripsi Gamelan dalam Bahasa Jawa

3) Jenis Geguritan

Berdasarkan bentuk bahasa, geguritan dibedakan menjadi dua macam yaitu geguritan gagrak lawas (bentuk kuno) dan geguritan gagrak anyar (bentuk baru). geguritan gagrak lawas mempunyai ciri sebagai berikut.

a. Menggunakan pembuka sun anggurit atau sun gurit.

b. Jumlah baris tidak kurang dari 4 

c. Jumlah suku kata satu dengan yang lainnya sama

d. Menggunakan purwakanthi swara atau menggunakan nada yang runtut

Adapun ciri geguritan gagrak anyar sebagai berikut.

a. terbagi menjadi bait atau pada

b. setiap kalimat ganti baris atau Gatra

c. kata yang digunakan atau kalimatnya ringkas

d. tema atau pokok cerita susah dipahami

e. ada yang menggunakan purwakanthi dan ada yang tidak menggunakan

f. ekspresi dan perasaan penulis bebas

 

Berdasarkan jumlah kata atau kalimat, geguritan dibedakan menjadi berikut.

a. Gita dwi gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 2 baris setiap bait.

b. Gita tri gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 3 baris setiap bait.

c. Gita catur gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 4 baris setiap bait.

d. Gita Panca gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 5 baris setiap bait.

e. Gita sad gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 6 baris setiap bait.

f. Gita Sapta gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 7 baris setiap bait.

g. Gita Hasta gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 8 baris setiap bait.

h. Gita Nawa gatra yakni geguritan yang terbentuk dari 9 baris setiap bait.

 

4) Teknik Parafrase Geguritan

Pada dasarnya, teknik parafrase geguritan maupun tembang itu sama. Untuk lebih jelasnya silakan simak pengertian di bawah ini.

a) Pengertian Parafrasa

Parafrasa merupakan istilah linguistik yang mempunyai arti menceritakan/menyampaikan kembali sesuatu teks/konsep dengan cara lain, dengan bahasa yang sama tetapi tidak mengubah maknanya. Menurut KBBI, parafrasa adalah menyampaikan ulang salah satu teks dalam wujud lain dengan maksud untuk menjelaskan makna yang tersembunyi. Kata parafrasa berasal dari bahasa Inggris paraphrase dan bahasa Latin paraphrasis, yang berarti “cara tutur tambahan”. Parafrasis atau menarasikan memiliki arti cara membuat gancaran (prosa).

Untuk bisa membuat parafrase, para pembaca harus tahu apa yang di maksud topik teks geguritan. Kemudian para pembaca harus menemukan gagasan-gagasan setiap baris dalam satu bait. Kata tambahan yang terkadang berupa ilustrasi bisa diabaikan. pendek kata, seandainya menggunakan kutipan langsung atau kalimat langsung bisa dirubah menjadi tidak langsung. intinya bahasa yang ringkas.

b) Tata Cara Parafrase Geguritan

Secara umum ada dua cara memparafrasekan geguritan. Kedua cara tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Membuat parafrasa terikat yaitu merubah geguritan menjadi wujud gancaran atau prosa dengan cara menambah beberapa kata dalam geguritan tersebut. Hal ini dilakukan supaya baris kalimat dalam geguritan mudah dimengerti. Semua kata-kata dalam geguritan masih utuh, tidak diganti atau dihilangkan dan tetap digunakan di dalam parafrasa tersebut.
  2. Membuat parafrasa bebas yakni merubah geguritan menjadi wujud prosa dengan kalimat pribadi. Adapun kata-kata yang semula ada dalam geguritan bisa digunakan bisa juga tidak. secara ringkas dapat diartikan setelah membaca geguritan tersebut sampai selesai kemudian diceritakan ulang menggunakan bahasa pribadi/ sehari-hari.

Secara terperinci langkah-langkah nggancarake atau memparafrasekan geguritan seperti berikut.

  • a. Pembaca harus mengerti terlebih dahulu makna geguritan yang akan digancarkan dengan cara pembacaan hermeneutik atau membaca berkali-kali sampai paham.
  • b. Mencari dan menemukan kata-kata yang memuat makna tidak langsung, majas (pasemon, pepindhan) perumpamaan, simbolik atau sejenisnya kemudian mengartikan kata-kata tersebut.
  • c. Menulis ulang kata-kata yang sengaja dihilangkan oleh penulis. Hilangnya kata disebabkan untuk menimbulkan keindahan bahasa dalam geguritan Walaupun demikian kata-kata yang hilang tadi tidak mengubah arti
  • d. Menyusun kata-kata dalam geguritan menjadi gancaran atau prosa yang lengkap yang terdiri dari kalimat utuh atau minimal memiliki subjek (jejer) predikat (wasesa).

Jika kita amati tata cara terebut, yang dimaksud paraprase tidak lain adalah mengganti geguritan yang berbentuk puisi menjadi gancaran atau berbentuk prosa. Maksudnya adalah geguritan yang semula harus bergantung pada aturan geguritan berubah menjadi gancaran yang harus ikut pada aturan gancaran atau prosa.

baca Juga: Deksripsi Pakaian Tradisional Jawa

5) Teknik Membaca dan Menulis Geguritan

a. Teknik Membaca Geguritan

Geguritan bisa digunakan untuk menyampaikan isi hati dan memberikan pesan, pengingat serta nasehat kepada yang membaca. Amanat geguritan akan lebih gampang dicari dengan cara diparafrase terlebih dahulu. Seperti yang diungkapkan di atas, parafrase geguritan maksudnya adalah proses merubah geguritan menjadi wujud gancaran atau paragraf dengan tujuan supaya makna geguritan lebih jelas dan gamblang. Dengan membaca atau mendengarkan geguritan kita bisa:

  • 1. Menemukan makna yang ada dalam geguritan
  • 2. Menentukan alasan yang menjadikan geguritan itu indah
  • 3. Membuat gambaran atau imajinasi kepada geguritan yang dibaca atau didengarkan

 

Yang harus diperhatikan dalam mencari nasihat geguritan yaitu:

  • 1. membaca naskah dengan cermat
  • 2. mengira-ngira kata-kata yang dihilangkan kemudian mengembalikannya
  • 3. melihat jika ada majaz (pasemon) atau perlambang yang digunakan
  • 4. menafsirkan makna pasemon atau perlambang
  • 5. merangkai kalimat kalimat dari hasil penelitian dalam gancaran

 Adapun yang berhubungan dengan teknik membaca geguritan yaitu:

  • a. lafal yaitu mengucapkan kata dengan jelas atau benar
  • b. intonasi yaitu tinggi rendahnya suara nada
  • c. irama yaitu cepat pelannya pengucapan kata-kata
  • d. gestur yaitu gerakan tubuh mengikuti suasana yang diharapkan dari geguritan
  • e. mimik yaitu ekspresi wajah yang sesuai dengan isi geguritan tersebut.

 

Secara ringkas, Sebuah geguritan dapat dinilai dengan memperhatikan empat hal berikut.

  • 1. Wirama atau irama. Irama harus diperhatikan ketika membaca guritan seperti keras pelan jelas atau samar dan lain sebagainya. ketika membaca geguritan yang memiliki arti semangat harus dengan suara keras, berbeda ketika membaca geguritan yang berisi kesusahan harus pelan, halus dan penuh rasa kasihan.
  • 2. Wirasa atau suasana hati isi geguritan harus dimengerti maksud tujuannya. kemudian saat kita membaca harus menyelaraskan dengan isi geguritan. Maksudnya adalah ketika susah, senang, wibawa, menyesal, marah, dan lain sebagainya harus sesuai wirasanya.
  • 3. Wiraga atau obahing awak. Maksudnya dari wiraga adalah ketika kita membaca geguritan, badan jangan kaku, luwes, santai, tidak dibuat-buat, menggerakkan bagian tubuh untuk membangun suasana. Mimik wajah harus selaras dengan isi geguritan tapi biasa saja jangan keterlaluan.
  • 4. Wicara atau lafal pelafalan. Ucapan harus jelas ketika membaca aksara swara, suku kata dan kata.

 

b. Teknik Penulisan Geguritan

Setelah materi membaca selesai, sekarang kita menuju teknik menulis geguritan. Adapun teknik cara menulis geguritan adalah sebagai berikut.

a. Menentukan tema atau underane geguritan.

b. Memilih kata yang berisi dan memiliki bobot sastra

c. Menyusun kalimat dengan ringkas, mebaginya dalam bait atau pada.

d. Menggunakan bahasa yang indah. jika diperlukan, bisa menggunakan purwakanthi basa atau sastra supaya enak dibaca dan mudah dihafalkan untuk panyandra atau pepindhan.

e. Menggunakan tembung andhahan atau kata turunan yang menggunakan ater-ater, seselan atau dwilingga atau dwipurwa

f. setelah selesai, koreksi dengan membaca berulang kali. Hal ini digunakan untuk mengukur cocok tidaknya dengan tema. jangan sampai seperti prosa yang dipotong dan disusun menjadi bait.

g. menggunakan judul yang bagus menarik perhatian para pembaca.

h. antara judul dan isi harus semakna atau berkaitan.


6) Contoh Geguritan

Berikut ini, kami sampaikan beberapa contoh geguritan.


Eling

Ainul Lela T.W

Kelingan pas isih cilik

Tansah gendong rono-rene

Tansah ngiringi awakku

Saben dina,saben wektu,lan saben tahun

Mbok,

Pituturmu kang alus

Bakal dakrungu

Kesabaranmu kang gede

Ora bakal daklalekake

Matursuwun mbok,

Tresna lan pandongamu ora bakal puput

Sliramu tansah ana ning ati

Mugi-mugi gusti tansah nyembadani

 

 

Ibu

Ainun Sonya

Ibu...

Rasa asih lan tresnamu

Tansah nancep ing atiku

Kesabaran kang ora ana batese

Ngadepi ndablegke anakmu iki

Ibu...

Menawa kalakuanku ala

piwelingmu tansah ngiringi

jasa lan pengorbananmu

nora bisa dak laliake

Ibu . . .

Mungkin aku ora bakal bisa bales kabeh pengorbananmu

nanging aku mung bisa dunga

Marang Gusti Ingkang Kuwasa

Mugi tansah paring kesehatan

ugi paring rezeki

 

ILING MARANG ALAMMU

Aisyah Aufad

Ing jaman saiki

Kabeh wis padha ora peduli

Bisane mung mikir awake dhewe

Alam kang endah wis ora digagas

 

Alam kang asri ora tau dijaga

Alam kang lestari wis padha rusak

Mergo ulahe manungsa

Sing ora tanggung jawab

 

Bayangno alam kang ijo royo-royo

Saiki dadi ora karuan

Bayangno alam kang endah ciptaan sing kuasa

Saiki dadi ora kerumat

 

Ayo para manugsa saiki sadar

Pentinge jaga alam iki

Alam kang akeh manfaate

Alam kang iso nggugah semangat urip

 

Puji syukur marang Gusti

Marang kaendahan alam kang diciptake

Sing kudu dijaga lan dirawat lestariane

Tanpa ngerusak lan ngilangke kaendahane

 

Sekolah

 Aisyah Yulianti

 

Sekolah

Papan kanggo golek ilmu

Papan kang paling aku tresnani

Ing sekolah

Aku ketemu karo kanca-kancaku

Sing nggawe atiku bungah

Susah seneng dewe lakoni bareng

Ing sekolah

Aku ketemu bapak ibu guru

Kang ngajari aku kanthi sabar

Wektu sekolah bakal tansah aku eling ing dina tuwaku

 

 

Indahing alamku

Ajeng Sekar P

 

Surya kang nyembul ing wayah esuk

Nyinari donya

Anggawe rasa tentrem

Ngawali esuk anuju kagambiran

Gunung gunung kan njulang

Ngawe awe ing angkasa

Suara nyanyi manuk manuk

Anggawe ati damai

Wit witan kang podo nari

Lan banyu kang lagi mili

Ngliwati lepen lepen cilik

Nambahake tentreming ati

Mula kui kita kudu akeh syukur

Marang Gusti Ingkang Maha Agung

Kita kudu jaga

Supaya alam iki tetep endah

 

KAENDAHAN ALAM

Akmal Nafis

Aku ngadeg ing dhuwur arga

Ngadeg ing ngisor langit

Ombak - ombak ning segara

Awan sing obah-obah

 

Alam, gawe aku tresna

Gawe aku betah marang kaendahanmu

Gusti, becik banget gawean Mu

Kula syukuri marang gawean Mu

 

Manungsa, aja nganti kowe rusak alam iki

Kebak sing butuh, kebak sing gelem

Matur nuwun Gusti

Marang alam sing endah iki


7) Penutup

Demikian pembahasan informasi tentang geguritan. Jika informasi ini bermanfaat, silakan bagikan. semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Pengertian Geguritan, Ciri, Jenis, Parafrase, Teknik Baca tulis beserta Contohnya"