Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML # adsen1

Kamuku (bagian 2)

Kangen dari Merbabu 

Aku sampaikan salam kangenku pada Kamuku, lewat puncak merbabu
Kamuku sayang, tahukah makna Merbabu bagiku? Di sana kutemukan banyak cerita tentang cinta. Cinta yang menggenggam, sebenarnya cinta dan kepercayaan tentang cinta.

Kangen dari Merbabu

Kemarin adalah pertama kali kuinjakkan kaki di gunung itu. Lewat Selo, sebuah kecamatan di Kabupaten Boyolali mulai kutapaki jalan setapak berdelapan. Sungguh perjalanan yang melelahkan, sayangku. 

Di sela perjalanan, kutemui banyak cinta. Cinta yang saling menggenggam dan bergandeng tangan saling menguatkan satu sama lain. Yang dengan wajah berbinar, sang empunya tangan, setapak demi setapak mulai menjajaki gunung setinggi 3142 mdpl itu. 

Tahukah Kamuku sayang, dari mereka yang bergandeng tangan, aku belajar tentang cinta yang saling menguatkan satu sama lain. Mereka saling support untuk mencapai puncak tertinggi, sebuah tujuan akhir yakni kebahagiaan. Jua tentang sandaran yang saling mengukuhkan, memberi semangat agar jalan yang terjal, jurang yang curam tak menjadi ganjalan dalam sebuah perjalanan.

Lain mereka lain pula dengan cerita cinta teman sependakianku, Estywic. Maksudku tentang kisahnya yang memberikanku pelajaran tentang cinta. Ia, dengan sabar dan telaten mencintai satu cinta. Dalam hatinya, ia selalu gusar dalam perjuangan cinta yang dijalaninya. Ia sangat ingin mendapati cintanya bersambut. Tidak bertepuk sebelah tangan. Walaupun keadaan demikian selalu menyulitkannya untuk move on dan tak bergerak, ia tetap mengejar cinta yang diperacayainya.

Memang itu bukan cerita pertamanya, tapi baginya, cinta itu adalah bermakna. Bagaimana tidak? Ia adalah pejuang cinta dari sejak awal kami bertemu. Ia rela tersakiti untuk kebahagiaan cintanya. Ia rela terlupakan demi dia yang disayanginya. Sungguh! Karena cinta baginya adalah memberi walau terkadang berharap akan memiliki. Dan baginya pula, cinta itu tentang membahagiakan, walau terkadang balasan-nya menyakitkan.

Lalu dengan kisah cinta yang ketiga, yakni sebuah kepercayaan atas cinta. Tahukah Kamuku dari mana kudapatkan pelajaran itu. Kudapati darinya, seorang yang sedang dilanda sakit atas penghianatan cinta. Seorang yang sedang membiasakan diri tanpa kekasihnya. Seorang yang sedang berjuang mengobati rasa sakitnya, atas cinta. 

Tapi Kamuku sayang, tahukah apa yang kuambil darinya. Adalah sebuah makna tentang arti cinta baginya. Tentang cinta yang saling mempercayakan atas kekasihnya. Tentang cinta yang berkompromi dan komitmen untuk saling menjaga satu sama lain. Ya, menjaga perasaan dan menjaga hati. 

Tentang komitmen saling menjaga satu sama lain adalah tentang ada dan tiadanya kekasih di hadapan kita. Baginya, yang menjadi kekasih selalu ada dan diadakan. Ia, walaupun tanpa kekasih dalam dekapnya, selalu mengingat komitmen yang ia buat. Tentang menjaga hatipun jua demikian. Baginya, ada banyak jalan untuk menuju Roma, tapi cintanya adalah hanya untuk kekasihnya. Walaupun ia tak menyangkal bahwa banyak yang lebih dibanding kekasihnya, tapi baginya cinta itu satu. Seperti Kamuku yang ada di dalamku.

Begitulah arti merbabu bagiku, Kamuku. Tapi Kamuku jangan salah, karena cintaku pada merbabu, tak akan melebihi cintaku padamu, Kamuku.


Sebuah Nostalgia

Hari ini, aku menuliskan namamu lagi, Kamuku. Tapi dengan rasa yang sedikit berbeda. Bagaimana tidak, Kamuku sayang? Tuhan mulai melengkapi kebahagiaanku. Ia dengan perlahan menurunkan rahmat-Nya. Ia merindukan tangisku ketika menghadap-Nya. Ia dengan sholawatku atas nabi Muhammad yang Agung, menjadikanku rindu pada masa kelamku, pada masa hilangku, pada masa terpuruk hingga pada masaku merindukan diriku sendiri. Yang sebenarnya. Hingga kubersimpuh luluh pasrah pada-Nya.

 Ah, Kamuku sayang! Tuhan kita, Allah SWT memanglah Maha di atas segalanya! Ia mengirimkan Kamuku padaku. Ya Kamuku sebagai salah satu anugrah padaku. Ia begitu sayang kepadaku. Dan aku berterimakasih atas semua itu. 

Kamuku pasti bertanya mengapa? Kamuku pastinya bertanya bagaimana mungkin? Maka Kamuku, biarkan aku sedikit bercerita tentang Kamuku. Iya Kamu, Kamuku! 

Dulu, entah kapan. Aku tak begitu ingat dengan waktu itu. Karena aku bukan pengingat yang baik. Kala kudiperkenalkan dengan Kamuku. Tahukah apa yang terlintas pertama kali dalam pikiranku tentang Kamuku? Ya, Kamuku adalah seorang yang (maaf) urakan atau dengan kalimat sederhana Kamuku adalah orang yang tak beraturan.

Jujur, Kamuku adalah orang yang cuek, sering ngawur dan ngelantur, terlebih ketika Kamuku bicara, ah sudahlah…. tak baik membahas masalalu. Tapi yang demikian itu, tidaklah penting bagiku karena orang bijak pernah berkata “seorang akan aneh saat gelap dan indah saat terang”. Begitulah Kamuku. 

Maka Kamuku sayang, aku jujurkan padamu pada masa terang ini. Kamuku sayang adalah anak yang sholihah yang ingin membahagiakan abah dan ibu. Kamuku adalah mahasiswa lulusan terbaik. Kamuku adalah semangat dan pemberi semangatku. 

Kamuku sayang, sekarang lebih cantik dari yang kukenal sebelumnya. Kamuku menjadi cantik karena kucintaimu, Kamuku. Ya, Kamuku lebih cantik walau tanpa lesung pipi saat tersenyum. Ya, Kamuku lebih cantik dengan hiasan kerudung yang Kamuku jaga. Ah, betapa nikmat Allah yang Agung. Ijinkan aku untuk merengkuh nikmatMu yang selama ini kudustakan. Ampunilah aku ya Allah…

Sekarang, Kamuku sayang sedang di rumah. Menitipkan rindu padaku untuk segera bertemu. Menggoreskan tinta cinta yang kan kita jaga. Meneteskan harapan untuk hidup bahagia berdua. Selamanya. 

Kamuku sayang, tahukah? Dalam benak, rinduku selalu menggebu. Jika diibaratkan ombak, rinduku takkan pernah berhenti mengikis karang. Jika seperti hujan, ia tak akan berhenti hingga menenggelamkan isi bumi. Tapi tidak Kamuku, tidak! Rinduku padamu hanya sebatas rindu pada kasihku, Kamuku. Sebuah rindu yang berharap mempertemukan Kamuku dengan aku dan berubah menjadi kita yang bahagia. Selamanya.

Cerita Malam

Tiap malam, aku hampir menghabiskan seperempatnya untuk tidak lagi memikirkanmu: aku terdiam merenungmu. Berangkali lebih dari seribu kali aku luput menafsirkan maksud dan tujumu padaku, entah itu ungkapmu, detak jantungmu, lirikan mata, hidung pesekmu yang kembang kempis, cubinya pipimu serta sesuatu yang lain dalam Kamuku yang tak bisa kuterpa maksudnya.
Kamuku (7): Cerita Malam

Yang bisa kulakukan hanyalah menerawang pula meraba-raba maksud dari apa yang sedang Kamuku sampaikan. Entah soal Kamuku, akumu atau bahkan kita: sebuah tugas khusus bagiku agar lebih belajar dan terus belajar. 

Sudah sering aku luput dari maksudmu, mungkin karena aku yang memang tidak tahu, atau memang sangat susah menerka maksudmu atau mungkin memang Kamuku tak mengiyakan aku untuk mengetahuinya. Tentang aku, Kamuku dan segalanya yang kutahu hanya sedang kasmaran dan sesegera mungkin untuk melabuhkan rindu pada kita. 
menerima tanpa harus memilih
Ingin sekali aku dan Kamuku sepakat, bahwa kita adalah empat huruf yang sepaham. Saling melengkapi satu sama lain. Kita hanyalah aku dan Kamuku yang berbilang-bilang. Tak terbatas, untuk selalu bahagia begitu pula orang yang mengenal dan mendengar nama kita.

Kita akan jejer, berdiri sejajar berpegangan saling mengokohkan satu sama lain. Memahami dan menjaga, menutupi kekurangan hingga menuju puncak-tapi tak pernah lupa jalan pulang- membawa aku dan Kamuku kepada Tuhan yang Maha Sempurna. Setujukah Kamuku tentang kita?...

Aku sadar bahwa sajak perjalanan dalam hubungan ini amatlah jauh nan panjang. Ini bisa membuat kita makin dekat namun tak ayal jika nantinya akan semakin jauh dan melupakan satu sama lain. Aku hanya tak ingin jika memang harus jauh, biarlah raga dan jasad bukanlah hati kita.

Ah, tapi siapa tahu… memang aku selalu memintanya kepada Tuhan, tapi untuk bagaimanapun aku harus menerima tanpa harus memilih juga sebaliknya.

Posting Komentar untuk "Kamuku (bagian 2)"