Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML # adsen1

Deskripsi Busana Adat Jawa - Pengertian, Wujud dan Filosofinya


Busana atau pakaian adat Jawa biasanya disebut juga dengan busana kejawen. Pakaian ini memiliki filosofi tertentu bagi orang Jawa. 


Pakaian tradisional Jawa memiliki nasihat tersirat seperti ajaran jawa. Dalam pakaian ini, ada ajaran untuk hidup serasi dan harmoni yang ada kaitannya dengan aktivitas sehari-hari, hubungan antar sesama manusia juga antara manusia dengan pencipta.


Berikut adalah perbedaan pakaian pria dan wanita Jawa.


Busana Adat Jawa

Pria

Wanita

Blangkon

Ungkel atau sanggul

Klambi/ Rasukan

Kebayak

Sabuk utawa stagen

Kemben utawa semekan

Epek lan timang

Jarik utawa nyamping

Wangkingan utawa Keris

Stagen

Nyamping utawa jarik

Cundhuk Mentul

Selop

Canelo utawa selop



Pakaian Adat Pria
Blangkon/udheng
Blangkon merupakan tutup kepala. Bahasa ngoko dari udheng adalah iket. Disebut blangkon karena sudah praktis, tinggal pakai. Adapun nama lainnya adalah dhestar (basa krama).
bagian-bagian blangkon / iket / dhestar

Blangkon dibuat dari kain bathik persegi, kemudian dilipat ditata dibentuk agar susunannya sama, kemudian dijahit berdasar ukuran kepala penggunanya. Saat ini, blangkon bisa dibeli di toko sesuai dengan minat para pembeli.


Dulu, panggunaan blangkon diiras, maksudnya iket yang berukuran lebar setaplak meja, diubed-dilingkarkan di kepala. Setelah presisi, kedua pucuk iket tersebut diikatkan satu sama lain di belakang kepala bagian bawah. Saat tidak digunakan, kemudian dilepas kembali.
Bagian-begian blangkon
  1. Kuncung adalah bagian ujung/pucuk dari iket yang berada tepat di tengah jidat. kuncung ini hanya ada di blangkon cengkok mondhol.
  2. Wiron merupakan bagian iket yang diwiru (dilipat rapi). wiron berada di sisi kanan dan kiri di atas alis mata.
  3. Sunglon merupakan sisi pinggir yang berada di atas wiron.
  4. Kemadha merupakan pinggiran batik yang ditempatkan di kiri kanan blangkon.
  5. Talingan merupakan bagian blangkon yang berada di sisi kiri dan kanan bagian bawah, agak melengkung sehingga persis di atas kedua telinga.
  6. Modangan merupakan bagian atas blangkon mulai dari rambut depan, tengah sampai mondholan.
  7. Mondholan yaitu bagian belakang blangkon yang berupa bulatan agak lonjong dan gepeng (pipih) presisi di atas tengkuk.

Cara pemakaian udheng harus pas, tidak boleh miring ke kiri apalagi ke kanan, kira-kira ukuran antara wiron dan alis satu jari. 

Filosofi udheng berasal dari iket yang harus kencang, rapat, tidak boleh longgar. Maksudnya adalah pikiran manusia tidak mudah goyah, tekadnya harus kuat dalam berbagai situasi.

Jenis blangkon diantaranya yaitu blangkon Sala yang tidak menggunakan mondholan (trepes), blangkon Yogya memiliki mondholan, blangkon Kedu, blangkon Banyumas, blangkon Sunda, berbahan batik tidak menggunakan mondholan (mirip blangkon Sala).

Baju (Klambi atau Rasukan)

Berdasarkan bentuknya, baju busana jawa ada 2 macam, yakni atela dan beskap. Akan tetapi ada beberapa jenis lain hasil modifikasi.

Baca juga artikel tentang keuangan, bisnis, dan gaya hidup di www.persentaseharian.com
  1. Atela berbentuk jas tutup. Mulai dari leher sampai bagian bawah tertutup. Kancingnya tepat berada di tengah dan biasanya berjumlah 5 buah. Bagian belakang atela dikrowok (berlubang) untuk menyisipkan keris.
  2. Beskap juga berwujud jas. Bagian leher tertutup dengan kancing yang berada di tengah. Bagian dada ke bawah ditutup dengan kain yang menyilang ke kiri miring ke bawah. Jumlah kancing ada 5 biji. Bedanya dengan atelah, posisi kancing membantuk huruf v. Beskap ada jenis landung dan growong (lubang belakang).
  3. Sikepan atau rompi. Busana ini digunakan sebagai rompi. Memiliki kancing akan tetapi tidak dikancingkan. Jika menggunakan ini, tentu bagian tengah terlihat.
  4. Langenharjan yang mirip dengan tuxedo. Jumlah kancing ada 1 biji. Bagian belakang dilubangi untuk tempat keris. Bagian dalam menggunakan baju hem lengan panjang.
  5. Taqwa atau surjan. Baju jenis ini biasanya penuh warna bunga kadang berupa lurik.
Berikut ini merupakan gambar dari baju-baju tersebut.

atela
 
beskap
langenharjan


sikepan

mungkin anda tertarik: Kamuku ( bagian 1)

sorjan/ taqwa

 
Warna baju/klambi/rasukan
Warna baju di keraton surakarta dibedakan antara atela dan beskap. Untuk atela, warna yang digunakan hanya hitam dan putih. Atela ini merupakan pakaian resmi di karaton surakarta. Sedangkan beskap, termasuk beskap landhung memiliki corak warna-warni. Ada hitam, abu-abu, kuning gading, hijau, dan lain sebagainya.
Aturan penggunaan baju 
Baju adat jawa memiliki aturan pemakainnya tersendiri di keraton. Aturan tersebut dibedakan sebagai berikut.
1) di dalam karaton surakarta
Di dalam keraton, aturan penggunaan busana dibedakan menjadi dua, yakni pada saat pisowanan ageng dan pisowanan sehari-hari. Berikut penjelasannya. 
A) pisowanan ageng
  1. untuk para santana dalem riya nginggil yang bergelar kph, kp, kra pakaian yang digunakan adalah sikepan pendek berwarna hitam dengan rompi putih. Udheng jebehan, keris warangka ladrang.
  2. untuk abdidalem bupati sepuh riya dengan gelar krat pakaiannya adalah sikepan cekak warni cemeng, udheng cekok mondhol kuncung, keris warangka ladrang.
  3. untuk para sentana dalem, abdidalem, bupati, bupati anom dengan gelar krmt, krt, rmt, rt, pakaiannya adalah atellah cemeng mawi “passan”, udheng cekok mondhol kuncung, keris warangka ladrang, nganggar samir.
  4. abdi-dalem seperti panewu ke bawah, pakainnya adalah atellah cemeng, udheng cekok mondhol dengan kuncung, keris warangka ladrang, hanganggar samir.
B) pisowanan sehari-hari
Dalam pisowanan sehari-hari, semuanya baik putra sentana-dalem maupun para abdi-dalem, pakaiannya adalah sembarang beskap asalkan tidak berwarna hitam. 

2) di luar keraton
Busana adat jawa yang digunakan di luar keraton, biasanya dalam acara mantu, ulang tahun, supitan (sunat/kitan) layatan takziyah adalah beskap.

Stagen
Stagen merupakan alat untuk mengikat sinjang jarik ke badan, agar tidak mlorot dan lepas. Bahan stagen dibuat dai kain tenun tebal dengan panjang 2-4 meter. Warnanya bermacam-macam, ada hitam, putih, hijau. Warna tersebut tidak terlalu penting karena akn tertutup sabuk, sehingga tidak terlihat dari luar. 

Stagen memiliki filosofi agar tegap, santun dan tegap perilakunya. Panjangnya stagen bermakna kalau orang jawa harus dawa ususe, sabar menghadapi cobaan yang ada.

stagen

Sabuk/ Lontong
Selain itu, sabuk juga berfungsi untuk menyisipkan keris. Jadi bagian belakang beskap yang sengaja dibuat lubang itu untuk memudahkan pengguna menyisipkan keris. Sabuk pada pakaian adat jawa, berbeda dengan sabuk/ikat pinggang modern. 
Sabuk ini berfungsi sebagai penutup stagen. Jadi, setelah stagen rapat, dirapatkan/dikencangkan lagi dengan sabuk agar stagen tidak terlihat. 
sabuk
Jinis sarta cakrikipun sabuk ada 3, yaitu 1) sabuk cindhe; 2) sabuk tenunan; dan 3) sabuk celupan. 

Adapun filosofi sabuk adalah samubarang ora kena babuk. Segala sesuatu harus ada hasilnya. Manusia harus bekerja keras, memutar akal (ubed) agar pekerjaanya membuahkan hasil.

Epek dan Timang
Ujung dari epek ini diberu timang atau gesper sebagai penahan serta lerep agar sisa epek tidak menggantung. Timang (gesper) dan lerep biasanya terbuat dari kuningan yang dihias ukiran. Bagi sebagian orang, timang tersebut ada yang dihias intan, berlian bahkan permata. 

Yang disebut dengan epek adalah ikat pinggang modern yang dibuat dengan bahan kain bludru, dengan lebar sekitar 5 cm, dan panjang ± 120-150 cm. Selain bahan kain bludru, epek juga dibuat dari rambut kuda. 
epek, timang dan lerep
Jenis epek 
Ada memiliki 3 macam epek yaitu 1) epek polos, tidak ada hiasannya sama sekalil; 2) epek bordir yang dijahit dengan berbagai motif untu walang atau ombak banyu atau motif bunga-bungaan seperti daun pakis; 3) epek rambut yang dibuat dari rambut kuda warna hitam.

Filososfi epek dan timang adalah sebagai manusia kita harus bisa mengambil (epek) segala sesuatu baik itu ilmu ataupun pengalaman, kemudian kita (timang) timbang, pilih mana yang cocok untuk kita. Timang artinya tahap penyaringan, sehingga tidak ada keraguan (kanti orang samang).

Sinjang atau Jarik
Sinjang merupakan bahasa krama dari jarik, jarit atau sewek (jawa timur). Bahasa krama inggilnya adalah nyamping. Sinjang merupakan kain batik panjang yang digunakan dengan cara melingkarkannya di badan, menutupi perut ke bawah sampai mata kaki. 
sinjang / jarik / nyamping
Kain batik yang digunakan untuk jarik itu merupakan hasil olah budi para leluhur yang secara turun temurun diberikan oleh nenek moyang. Selain pola motif yang rumit dan indah, batik tersebut dihasilkan dengan sabar, telaten, serta melalui banyak proses. 
Filosofi sinjang berasal dari jarik, yang berarti aja serik yaitu jangan iri atau benci pada orang lain. Apa yang kita miliki harus kita sukuri. Jika mempunyai masalah dengan orang lain, harus kita selesaikan dengan baik-baik atau secara kekeluargaan.

Keris / dhuwung / wangkingan
Keris merupakan senjata bagi orang jawa yang sangat adiluhung. Disebut adiluhung karena di dunia tidak ada yang menandinginya. Mulai dari pembuataanya yang harus hati-hati, rumit, penuh ketelitian, sabar dan ketenangan hati.
keris
Filosofi keris yakni saat beribadah kepada tuhan, manusia harus mengalahkan godaan setan yang mengganggu manusia saat akan berbuat kebajikan.


Canela atau selop
Filosofi canelo adalah sebagai lambang untuk beribadah secara lair batin kepada allah. Canela merupakan bagian pakaian adat jawa untuk alas kaki. Canela bisa dibuat dari kulit hewan atau bahan sintetis. Canela digunakan untuk menutup jari kaki, sedangkan bagian belakang tumit terbuka.
selop / canela

Demikian artikel singkat mengenai pakaian adat Jawa pria, atas perhatiannya saya sampaikan terima kasih. tunggu postingan kami selanjutnya, salam. Baca artikel menarik lainnya di: infokuota.com

1 komentar untuk "Deskripsi Busana Adat Jawa - Pengertian, Wujud dan Filosofinya"

  1. Maturnuwun, saiki aku dadi reti opo wae iku busana adat jawa

    BalasHapus