Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kamuku ( bagian 1)

Sebuah Awal

 
 
sumber: https://unsplash.com/
 
Akan ada Kamuku, dalam ingatanku. Dalam hentakan nafas yang terbatas waktu, dalam setiap panggilan yang kutahu itu adalah arti nama Kamuku. Dalam setiap doa yang sesekali kuselipkan nama Kamuku, kan kuingat semua. 

Walaupun tak ada catatan yang pasti, aku hanya meyakinkan diriku bahwa aku bisa menunggu waktu untuk bersama Kamuku.

Tentang hari esok, atau masa nanti bagaimana, hanya Tuhan yang tahu. Dia yang menentukan segalanya. Semuanya, segalanya. 
Aku hanya bisa pasrah. Meminta tanpa harus menerima. Menerima walau tanpa menerima. 

Dan tak perlu Kamuku risaukan tentangku.


Kamuku dalam Puisi 

(1) 
Ku ngaku akumu 
Mukamu kamu aku
Kudaku Kamuku
Akumu
Kamu kamu Kamuku
Dakumu akumu
Aku dakumu
: mukamu aku kaku
Aku kamu mukamu
Dakuku Kamuku
Kudaku dakumu akuku
Adamu dadaku
Dadaku ada kamu
(2)
Aku berdiam
Menikamti rindu yang mencanduku
Menusuk-dalamkan kangen yang tek berujung
Kecuali pada penantian pula kepastian Tuhan
: tak mungkin aku mengelak, pula berteriak
Aku pasrah
Dan padamu, aku bersumpah

(3)
Dalam bisik kau ucapkan rindu
Yang menggebu untuk segera bertemuku
Dan sesegera pula kau berlalu
: maka kuhapus namamu

(4)
Kamuku, kurindukan...
Sangat!

(5)
Kamuku, rindukanku
Kamu kurindukan
Aku ke kamu, Kamuku

(6)
Kamuku,
Rinduku seperti dua sisi mata uang
Kudekapmu
Dengan hangat yang kamu tahu
Bahwa aku dibelakangmu

(7)

Perlahan, kulagukan padamu sebuah tembang
Tentang cinta yang kutahan
Tak kuutarakan, tak kuterangkan
: Kamuku telah menahu, merindu
Dan tertuju padaku....

(8)
Kamuku akan tahu bagaimana rinduku!
Jika diibaratkan ombak, karang tak kan sanggup menahannya
Jika disamakan hujan, langit tak sanggup membendung
Pula bumi yang akan tenggelam karenanya
Tapi biar bagaimanapun
Hanya kan kutuangkan rinduku dalam gelas
Kita berdua, duduk menikmatinya
Bersama Kamuku..

(9)

Aku mengumpat untuk setiap kesempatan menemumu
: kau tersenyum, meninggalkan lambai rindu
Yang tertanam dan terus kau siram
Tumbuh ke dalam
Mengakar, menjalar ke seluruh otak
Ingin segera kurobek isi kepalaku
Agar akar rindu yang menjalar
Keluar dan mengeluarkan pijar
Agar semuanya tahu
: aku mengumpatmu, dalam rindu yang menggebu


Bingkai Emas 

Kamarku sengaja kubuat gelap. Tanpa lampu, pun jua cahaya lilin. Kamuku tahu kenapa? 

Aku tahu benar Kamuku tahu apa alasanku melakukannya. Ketika Kamuku  tebak aku cemburu, aku jawab iya. Dan dengan tegas aku mengakuinya.

Aku memang cemburu kepadanya. Kepada dia orang yang namanya tak ingin kita sebut di antara kita. Aku tahu dengan alasan apapun, nama itu tak akan terhapus dalam ingatanmu. Entah sampai kapan...

Aku paham, walaupun Kamuku telah lupa, namun nama itu akan selalu ada. Di antara kita.
Setiap orang punya sisi gelap, yang tak ingin diketahui seorang yang lain
Terlebih saat dinding kamarku, dalam remang-remang gelap kamar yang sengaja kupatikan lampunya, terpasang sebuah gambar dengan bingkai emas yang menghiasinya, tercium bau asmara yang mewangi--gambar foto wisuda.

Ah, Kamuku. Betapa sakit dan perih hatiku. Sungguh. Dan terlalu

Aduh, Kamuku. Aku kadang lupa siapa aku. Seharusnya sudah menjadi sebuah kewajiban bagiku untuk mencegah rasa cemburu lahir bersama kegelapan kamar yang remang ini. Namun maaf, rasa sakit ini sudah tak terelakan. 

Kala kulihat bingkai emas itu untuk pertama kali, aku merasaa marah. Aku cemburu membuta. Mataku merasa gelap, seperti kamarku saat ini. Kucoba untuk menerkam amarahku agar tak datang menyerang dan menyalahkan Kamuku. 

Tapi ya sudahlah, sekarang sengaja kamarku kubuat gelap, meredam laraku dan menemani cintaku dalam lelap.


Tiada Judul

Akupun tak ingin berhenti melakukan apa yang ingin aku lakukan. Seperti halnya menulis namamu untuk kesekian kalinya. Entah seratus atau berjuta kali. Aku akan tetap menulis namamu--sebagai pengobat rinduku padamu.

Aku sering dilanda cemburu pada orang orang di sekitarku: melihat kemesraan yang penuh binar, hingga menyilaukan mata jua perasaanku. 

Aku sadar betapa sulit dan kerasnya batu yang harus kupecahkan untuk mengobati rinduku, padamu. Sepanjang hari aku tersekap oleh rasa rindu yang menjadikanku beku. Sering aku menjadi frustasi karenanya. 

Jujur, aku ingin berhenti merindu. Tak lagi menungguimu dalam suka nan duka, sebab aku tak yakin bila tresna ini akan segera berlabuh padamu.

Tapi lagi-lagi entahlah… 

Aku hanya akan berusaha untuk tetap menungguimu serta merinduimu dengan menuliskan namamu dalam setiap ketikan keyboardku. Aku berdoa agar apa yang aku usahakan pada hari ini akan dapatkan kebahagian Sang Pencipta: berikhtiar bahwa Kamuku akan menjadi pelabuhan terakhir dalam hidupku. Amiin...

Posting Komentar untuk "Kamuku ( bagian 1) "