Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gusti, Maafkan Kami Yang Rasis

Dhuh Gusti, maafkan hambamu yang masih rasis ini. Tak mampu belajar dengan baik sebagaimana yang kautitahkan padaku.

Alah alah. Sebegitunya kami memandang rendah orang lain yang sedang belajar, sehingga seraya mengatakan dia sok dan keminter tentang yang sedang dia pelajari. Tentang apa yang dia lakukan adalah sebuah tindakan pamer dan ingin merendahkan orang lain. Bagaikan sebuah kesombongan yang ketok mencorong, dipamerkan di hadapan orang lain. Biasanya bagaimana dan harusnya bagaimana, sesuai dengan titahmu, kami sering lupa dan menyombongkan diri.

Pada tahapan ini, sering kali kami memandang rendah mereka. Kami yang terlebih dulu belajar tidak menerapkan ilmu padi. Bukannya semakin berisi semakin merunduk tapi malah sebaliknya. Sok-sokan menjadi bunga matahari yang dengan gagah menghadap matahari. Ingin bersinar, padahal tak memiliki daya kuasa apa-apa.

Gusti, Maafkan Kami Yang Rasis

Bukan hanya tentang ilmu, tentang rahmatmu yang Kau titahkan pada siapapun suku di negara ini, masih saja kami membedakan warna kulit, bentuk muka bahkan model rambut. Dia yang ngombak, dia yang pirang dan dia yang tak berambut, tak pernah kami bisa memandang mereka sama, setara dalam hak sebagai manusia.

Apalagi mereka yang memiliki mata sipit, mata mblolok juga mata juling, tak pernah sekalipun kami memandang mereka sebagai saudara. Masih ada embel-embel mereka itu cina, padahal sekarang mereka berganti nama Tiongkok. Masih memanggil nama mereka dengan nada gurauan rasis. 

Pula dengan warna kulit. Masih saja menjadi anggapan umum masyarakat bahwa yang putih itu cantik. Yang kuning langsat itu menarik. Apa ini memang cobaanmu, Gusti? Hingga yang seharusnya ini menjadi wadah penyadaran tentang rahmatmu, malah kami tutupi semua itu dengan kesombongan dengan pengakuan: kami yang terbaik. Kami, otak kami, warna kulit kami, ilmu kami, apalagi rupa kami adalah sebenarnya ciptaanmu yang paling indah dan mereka hanyalah pelengkap yang serta merta jika mereka tidak pernah Engkau ciptakan, pun dunia tidak akan pernah merugi. Maafkan kami, Ya Gusti.

Saban hari, tak pernah luput diri ini dari perbuatan yang sangat rasis itu. Selalu dan selalu kami luput. Apalagi kali ini, saat orang lain berbeda dan mencoba mengemukakannya di depan umum, sedang dilalah dia dari ormas lain, suku lain bahkan warna kulit lain, betapa kami manjadikan diri ini menjadi begitu angkuh, menjadi yang paling benar. Selalu dan selalu dalil dari para guru, kami jadikan tameng kebenaran. Kudu iki! Liyane salah!  Harus ini. Yang lain SALAH!

Gus Baha’ pernah berkata, pendapat mereka benar mungkin juga mengandung salah, begitu pendapat kita benar tapi mungkin juga mengandung salah. Bukankah itu yang sebenarnya, Gusti? Bukankah kebenaran hanya milik-Mu.

Kami sadar, Gusti, walau belum sepenuhnya. Segala sesuatu yang Kau cipta pasti memiliki sesuatu yang harus dipelajari. Kami tidak boleh memandang hanya dari satu sisi. Selalu ada sisi lain yang bisa menjadi sudut pandang lain. Selalu ada celah, agar kami tak termakan oleh pikiran sendiri. Selalu.

Allah Karim. Sebegitu sombongnya kami saat ini. Hingga mengabaikan tiap ayat yang sudah Kau takdirkan turun ke bumi. Mereka yang berbeda itu, seharusnya tidak boleh dibedakan, Gusti. Apalagi kami yang  bocah wingi sore. Anak baru kemarin sore. Seharusnya untuk kami yang baru belajar cara berjalan, tak boleh berkomentar pada mereka yang sedang belajar merangkak. Apalagi mereka yang telah berlari. Bukankah begitu seharusnya, Gusti?

Lama sekali Gusti hal ini telah kami lakukan. Lalu, jika nanti Kau timbang amal kami di yaumul mizan, betapa meruginya kami. Seberapa banyak dosa yang kami lakukan. Padahal, hampir saban waktu rasisme kami lakukan. Hampir setiap hari, selalu kami ngrasani mereka yang berbeda dengan kami. Menjadi ahlul ghibah forever.

Acap kali, Gusti, acap kali. Selalu kami merasa lebih baik dari mereka. Acap kali dalam hati ini, merasa paling baik di antara mereka yang telah melakukan kesalahan. Ah, kami lebih baik dari mereka. Kami dan mereka sama-sama pernah tak menjalankan perintahmu, namun bedanya dia pernah minum ciu sedang kami tidak. Dia nganggur, kami bekerja. Kulitnya gelap sedang kulitku berbinar. Dia mrongos dan gigihku rapi, dia jelek dan diri ini bagus. Ganteng dan berpostur tinggi. Hebatnya aku. Kami orang baik sekali, kan? 

Atau dalam hal lain, kami malah merasiskan diri sendiri. Kami tak berpendidikan dan pasti akan kalah dengan dia anak sekolahan. Dia balungan gajah, anak orang kaya dan kami anak singkong. Bapak ibu hanya seorang buruh. Dhuh, Gusti. maafkan kami yang luput membaca nikmat-Mu. Melupakan setiap rahmat yang telah Kau berikan kepada semua mahluk adalah sama. Engkau yang Maha tidak Rasis, Gusti. 

Taek sekali kan kami, Gusti. Pikiran itu kerap kali menemani. Sepanjang jalan yang kami lalui, setiap orang yang kami temui, selalu saja terbersit pemahaman bodoh tentang betapa hebatnya atau rendahnya diri ini. Betapa cepat kami sadar, namun begitu cepat pula kami luput dan kembali melanglang buana:  Kesombongan merajalela dan pandangan ini hanya tinggal sebelah mata. Selalu kufur terhadap nikmat yang Kau beri. 

Sadar dan mlengsene utek ini, selalu saja bergantian dengan cepat. Dan yang terjadi, maafkanlah hamba-Mu yang lemah ini, Gusti. Ngapunten karena kesombongan yang selalu menang dan telah meracuni akal dan perbuatan kami. Ngapunten, karena kami tak pandai bersyukur atas nikmat perbedaan yang Kau cipta. Berilah hambamu ini kesadaran yang serta merta turut ikut andil dalam menjaga keharmonisan negeri ini tanpa membeda-bedakan mereka yang berkulit lain, mereka yang berpendidikan atau yang tidak berpendidikan. Amiin. 


Posting Komentar untuk "Gusti, Maafkan Kami Yang Rasis"

------------------------------------------------