Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kamuku (bagian 3 -- end)

Takutku Bukan tentang Aku


Begitu asyik dan nikamatnya aku, merasa banyaknya rindu pada Kamuku. Tak terbayang harus berjuangnya aku untuk bertemumu. Banyak hal yang harus kuperjuangkan: sabar, lara, rundu, cemburu, pula marah dengan bumbu sedikit jengkel yang (maaf) keterlaluan-kutahankan, agar kelak saat bertemumu sudah kujalani semua- tinggal bahagia semata dengan Kamuku.

Aku tertantang untuk tidak jatuh lagi pada kekecewaan pula penyesalan. 
Aku berjalan untuk sebuah pertemuan. 
Aku termenung- memikirkan masa depan.
Yang belum kuketahui ada apa di sana.
 
Bapak dan Emak berwejang, janganlah jauh-jauh dari rumah, agar kelak dengan mudah menengok cucu mereka. Tapi saat ini siap tahu jalan Tuhan, kecuali orang yang tak pernah enggan untuk berjalan. 


Aku didaku

Kamuku, boleh aku bercerita tentang rasa takutku saat jatuh hati padamu. Bolehkan?


Kamuku, aku merasa takut saat aku bersanding dan berdua denganmu. Takutku itu bukan tentang aku, tapi tentang kita nantinya. 

Ada sedikit perasaan was-was yang timbul kala aku memikirkan bagaimana nantinya aku dan kamuku manjadi kita. Aku was-was akan hal yang belum terjadi. Belum lagi, tentang omongan sanak saudara dan tetangga. "Owh, ini ta yang kamuku banggakan? Kok jelek ya? Kok miskin ya? Hiihh, amit-amit." Sungguh, aku belum siap mendengar ungkapan itu.

Mungkin ini yang dinamakan manusia: selalu takut pada apa yang belum terjad. Selalu was-was dan miris pada apa yang belum tergaris. 

Mungkin sebuah kebodohan kala aku menakutkan hal ini terjadi. Namun setidaknya dengan menuliskannya, rasa takut ini sedikit terobati. Apalagi saat Kamuku mau berbagi keberanian. Ah, betapa indahnya saat gayung bersambut. Kamuku tahu apa maksudku dan di mana aku menunggumu.

Semoga tersegerakan. Aamiin.


Hari ini

Hari ini, entah hari ke berapa aku menghendaki hadirmu. Entah sampai kapan aku mengidap candu ini padamu. Selama itu pula kan kuta’jil mencari cara untuk segera menyatukan Kamuku dengan akumu.

Aku hanya bisa pasrah dengan doa yang kupanjatkan, dengan surat fatihah yang kukirimkan. Dengan penuh harapan semoga Abah rela dan ikhlas menjadikanku sebagai pendamping halalmu. 

Aku tahu, Kamuku belum rela sepenuhnya menjadi kita. Itu menjadi salah satu dorongan yang kuat agar akumu ini untuk lebih bekerja keras, menata dan memantaskan diri agar nantinya tiada yang iri saat akumu menjadi milikmu seutuhnya juga sebaliknya.

Aku tahu, untuk sowan ke daleme Abah memang butuh banyak perjuangan. Aku harus mengubur dalam rasa malu, aku harus membawa banyak sangu, menata laku dan menjadi pribadi idaman Kamuku. 

Yang sekarang bisa kulakukan adalah tetap menjadi akumu. Tetap merindukanmu, menghayal untuk bisa bersanding denganmu.

Aku tak acuh pada berapa kali kutulis namamu, berpuluh beratus bahkan berjutapun tak akan jadi masalah, toh semua yang di dunia adalah atas kehendakNya Tuhan. Aku hanya bisa berusaha, Kamuku jugakan?

dalam Gurit (Puisi Jawa)

Ingatase kaya ngapa? (harus seperti apa?) 
Wuyung sing gumathok ing jerone pulung bisa oleh tamba? (cinta yang tertancap di hati bisa memperoleh obat?) 
Kejaba bisa nemoni bebungahing nala (Kecuali bisa bertemu pujaan hati)
Hidup, mati, tidur, tulis namamu ada
Kekal, mulai, abadi, kunci, tulis ada namamu
Rindu, kejam, prasangkan padamu ada
Cuek, rindu, kangen, wuyung tresna
Kabangetan lara, perih siap sumadya (sangat sakit, pedih siap sedia)
Namamu Kamuku tak ada duanya.
Jangan bolehkan rinduku padamu membunuhku 
Tan peduli angen lamun langut (tak perduli walau angan menjadi kesia-siaan) 
Menunggumu dalam cinta yang dalam...

 Kabar Malam

Aku tak marah 
Mendengar kabar baik darimu, Kamuku
Yang kurindu, yang sesekali kuselipkan dalam
Doa pengantar tidur, ku diberi mimpi untuk menemumu 
Dalam cantik, dalam balutan 
Gaun pengantin putih dikerubungi oleh 
Tukang rias profesional

Tak hanya sekali kuimpikan 
Kamuku dalam lelapnya 
Malam kelabuku 

Banyak yang ingin 
Kusampaikan walau kadang untuk 
Bicara saja, aku 
Harus menunggu, menerima pesan 
Harus menunggu, menerima kabar 
Harus bersabar 

Malam ketika selesai adzan 
Dikumandangkan melalui 
Surau-surau dekat kampus, ternyata rasa kaget
dan jawaban yang selama ini
kutunggui sedang 
Kamuku jawab. 

Kita harus berpisah, dengan 
Cara yang sama kualami, tempo 
Dulu. 

Tapi itu tak penting, dan tanya 
Kamuku 

Tentang bagaimana rasa 
Marahku yang tak kuutarakan, aku 
Hanya bisa diam dan tak 
Kusampaikan. 

Kubiarkan rasa sabarku, jauh mengalahkan 
Rasa marahku dalam damai 
Sengaja kusembunyikan dan tak 
Kulepaskan. 

Aku hanya ingin seperti 
Bapak yang kujadikan contoh dan
Kuidolakan. 

Beliau selalu sabar menghadapi 
Kenyataan walaupun itu sungguh pahit 
Diterimanya. 

Jika Kamuku bertanya aku marah, maka kujawab ya! 
Aku marah, tapi bukan pada Kamuku.
Ketika Kamuku bertanya aku jengkel, maka ku jawab ya! 
Tapi tidak pada Kamuku. 

Tenanglah Kamuku, sayang. 
Maaf, maksudku Beb
Aku hanya tak ingin menjauh dari restu kedua orang tua 
Kita yang selama ini telah mengantarkan kita meraih 
Gelar sarjana. 

Aku sama seperti 
Kamuku yang patuh pada
Nasihat orang tua, walau 
Sekali atau berulang kali aku 
Gleleng tak menurutinya. 

Sempat aku berpikir untuk mengajak 
Kamuku berontak dan tak menurut! 
Sekali saja… 
Dan nyatanya, Kamuku benar anak sholihah 

Aku tak berani, mengulangnya 
Lagi. 

Sudahlah, biar sama-sama kita tanggung rasa rindu
Itu di dada kita masing-masing 

Ini bukan tentang keputus-asaan atau 
Ketidakmampuan kita untuk benar-benar menjadi kita 

Ini adalah tentang restu orang tua, maka 
Tepati dan jalani, hingga
Suatu hari kuberanikan diriku untuk sowan dan 
Memperkenalkan diri
Kepada beliau, Abahmu.

Bagian Akhir

“Kini kutepati janjiku padamu, Kamuku.”
Aku tahu, ini memang hanyalah sebuah coretan pena dan ulasan beberapa kisah yang kini ingin aku sampaikan pada Kamuku. Aku tak terlalu peduli tentang siapa aku dan Kamuku sekarang. Yang kutahu, prinsipku bahwa aku tak akan pernah berjanji kalau tak bisa kutepati. Sesuai prinsipku, kini kutepati janjiku padamu, Kamuku. 

Sudah beberapa bulan, tulisan ini sempat kuhentikan . bukan karena aku tak punya waktu untuk acuh lagi pada Kamuku. Bukan. Kemaren, sedang aku fokuskan mataku untuk mencari yang lain. Ketika kukatakan “yang lain”, Kamuku pastilah sudah menebak apa maksudku. Tapi tenanglah Kamuku, aku tak seburuk apa yang Kamuku pikirkan. Mungkin.

Kamuku sudah tahu bagaimana aku sekarang ini. Aku mencari sambilan melek malam. Ya, dengan sedikit keahlian yang kumiliki, aku bisa mengais sedikit rejeki yang bisa kugunakan untuk survive.
Kamuku tahu, di mana jalanku. Jangan tergesa-gesa. Ikuti saja alurnya.
Tiap malam yang sunyi, selalu kuusahakan mataku tetap terjaga. Di depan keyboard laptop yang harganya tak seberapa, kuketikkan beberapa kalimat yang kucopy-paste-edit dari setumpuk referensi. Ya beginilah, namanya sambilan. Kulakukan sambil bernafas senin kamis, kulakukan sambil menikmati secangkir kopi, kunikmati sambil memikirkan Kamuku yang akhir-akhir ini kutahu masih merindukanku. 

Tapi mau dikata apa, beb. Ternyata jarak yang sedemikian rupa, tak mampu kutahankan. Maaf, maksudku kita lalui. Dan ya sudahlah. Aku tak pernah menyesal hingga saat ini. Apalagi tentang rasa nyaman yang sama-sama kita pernah rasakan. Atau tentang rasa lain, ketika hidungmu kembang kempis menahan emosi, ketika tangan Kamuku menyentuh lenganku, ketika kusebut nama yang “kita tahu itu siapa” juga tentang rasa yang lain. 

Kamuku tahu, di mana jalanku. Jangan tergesa-gesa. Ikuti saja alurnya. Terimakasih Kamuku. Salam.


---tamat---

Posting Komentar untuk "Kamuku (bagian 3 -- end)"