Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Surat untuk Anakku di Masa Depan


Untukmu, Anakku di Masa Depan (2)

Hai, Nak. Apa kabarmu hari ini. Semoga saat membaca tulisan ini, kamu lebih dewasa, pinayungan sarta jinangkung ing rahmate Gusti-- dilindungi oleh Tuhan Semesta Alam. Amiin.

Nak, ini adalah surat kedua yang bapak tuliskan untukmu. Tak apa ya, Nak. Kamu jangan bosan ya. Karena setelah ini, Bapak masih akan tetap menuliskan surat untukmu. Hehe

Nak, lewat surat ini, bapak ingin cerita tentang wanita yang kemarin dekat dengan Bapak. Namun sebelum sampai pada siapa wanita itu, bapak ingin kamu tahu bahwa kita ini manusia biasa, Nak. Tan kinaya ngapa. Tidak bisa apa-apa tanpa seijin Tuhan.

Nak, sebagai manusia, kita dilahirkan beserta tiga hal atau lebih yang tidak dapat kita elakkan. Ketiga itu adalah jodoh, rejeki dan mati atau orang-orang menyebutnya takdir mubram. Ah, bapak lupa. Kamu kan belum mempelajarinya. Maaf, Nak. Maaf.

Takdir mubram itu adalah ketentuan Tuhan yang sudah paten, Nak. Artinya tidak dapat diganggu gugat atau dirubah oleh manusia macam kita ini. Bahkan nabi-pun tidak akan bisa.

Pasti kamu berpikir lain ya, Nak. Di dunia ini kan semuanya diciptakan berpasang-pasang. Ya berpasangan dengan tidak. Baik dengan buruk, hidup dengan mati. Benar, begitu juga dengan takdir mubram. Ia, berpasangan dengan takdir muallaq. Yakni takdir yang bergantung pada manusia itu sendiri.

Sederhananya seperti ini, Nak, jika manusia ingin sehat, maka ia harus menyantap makanan sehat dan bergizi, namun jika manusia ingin sakit, gampang. Tak usah makan saja, maka dijamin ususmu akan saling lilit satu sama lain.

Lanjut ke bagian wanita itu, Nak. Wanita yang saat ini dekat dengan Bapak. Doakan ya, Nak. Wanita ini yang akan mendampingi bapakmu di masa mendatang. Wanita ini yang menyusuimu di masa nanti. Bukan wanita yang lain.

Nak, bapak merasa nyaman bersama wanita itu, Nak. Tenin. Sung lah pokoke.--sungguh. Sumpah. Kamu pasti mikir bapakmu ini bucin ya, Nak. Ah, Kamu. Nanti ketika kamu jatuh cinta, kamu akan tahu, Nak. Apa dan bagaimana rasanya.

Nak, sebagai pengingat saja ya, bapakmu ini sudah beberapa kali apel ke rumah wanita itu. Apel bapakmu ini berbeda dengan pemuda lain. Bapak main di rumahnya bukan pada malam minggu atau malam jumat. Tapi malam sabtu. Gak ada yang istimewa kan, Nak. Semuanya akan menjadi istimewa ketika kamu jatuh cinta, Nak. Percayalah. Sesederhana itu. Sebahagia itu.

O iya, Nak. Bapak lupa cerita bagaimana awal perkenalan bapak dengan wanita itu. Bapak mengenal wanita itu, lewat app pencari jodoh. Ah, mosok ada, Pak? Oke. Kamu boleh ketawa, Nak. Tapi bapak akan jawab dengan lantang, YA. Bapak mengenal wanita itu lewat app pencari jodoh.

Jangan kamu pikir bapakmu ini cemen, Nak! Jangan! Itu melebihi ekspektasi yang kamu kirakan saat ini. Banyak di antara kawan sepantaran bapak yang mengeluh dalam pencarian di mana jodoh mereka berada: sedang bersama orang lain, belum lahir atau sebagainya. Banyak yang sambat karena ketidaktahuan mereka memanfaatkan teknologi yang ada. Banyak yang mengucilkan diri di rumah agar tak bertemu sanak saudara: mana calonmu? Si A udah nikah lo, apalagi si B, anaknya udah masuk PAUD, kamu kapan? Bapak hanya mencoba lebih bijak dalam menggunakan teknologi yang ada. Di masamu sekarang ini, perkembangan dunia digital tak dapat kamu hindari, Nak.

Kamu itu, harus lebih bijak. Minimal, jangan kamu gunakan untuk memburu kesenangan  sesaat apalagi berbuat jahat. Bijak-bijaklah dalam penggunaan teknologi ya, Nak. Setidaknya buatlah disiplin waktu agar dirimu tak terlena dengan kemudahan teknologi ya, Nak.

Aduh, maaf, Nak. Bapak jadi ngelantur cerita kemana-mana. Lanjut ke bagian wanita itu ya, Nak. Dari mulai chattingan, rasa nyaman mulai muncul. Hari demi hari berlalu. Rasa rindu mulai memburu. Sehari tak berkabar, dunia seakan hambar. Sehari tak bertemu, pandangan menjadi semu. Ah, rasanya bahagia ada di depan mata. Semuanya menyelimuti setiap pandangan. Tak ada istilah dunia milik berdua, karena saat Bapak bahagia, semua harus merasakannya. Itu yang diwariskan Mbah Kadar kepada Bapak. Silakan, Nak, kamu milih mukti apa mulya?


1 komentar untuk "Sebuah Surat untuk Anakku di Masa Depan"

------------------------------------------------