Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Parafrase/ Gancaran Tembang Gambuh Serat Wedhatama Pada 16 - 20

Untuk mengetahui isi sebuah tembang atau puisi, diperlukan adanya gancaran atau parafrase. Parafrase adalah proses penarasian sebuah tembang dengan menambahkan beberapa kata atau merubah teks tembang menjadi bahasa sendiri. Gancaran bersinonim dengan prafrase yakni proses penarasian puisi atau lagu (tembang).

Gancaran Tembang Gambuh Serat Wedhatama
Ada dua cara untuk memparafrase, yaitu 
  • Gancaran bebas yakni gancaran dengan cara mengganti keseluruhan teks tembang menggunakan bahasa pribadi.
  • Gancaran terikat yaitu gancara dengan tetap menjaga keaslian tembang dan hanya menambahkan satu dua kata agar tembang bisa diketahui maksudnya.
Filosfi tembang Gambuh adalah setiap manusia pasti akan jumbuh, cocok satu sama lain. Setelah manusia merasakan jatuh cinta (asmaradana) manusia merasa cocok satu sama lain. mereka lantas menuju ke jenjang kehidupan selanjutnya, yaitu menikah. Inilah filosofi tembang Gambung tersebut.  

Arti  kata gambuh adalah cocok, jumbuh, lengkap. Artinya adalah tembang gambuh mewakili proses manusia yang cocok satu sama lain, saling melengkapi dalam hubungan pernikahan.

Tembang gambuh bisa digunakan untuk menggambarkan selaras, cocok dan santai. Tembang ini bisa digunakan untuk bercerita atau menyampaikan nasihat-nasihat.

Dalam serat Wedhatama, tembang gambuh ada pada posisi pupuh keempat (sebelumnya secara berurutan pangkur, sinom, pocung, gambuh dan terakhir kinanthi).

Pupuh Gambuh dalam serat wedhatama berjumlah 34 pada atau bait. Kesemua pada itu sama, tidak ada yang ingkar dari aturan atau paugeran tembang gambuh itu sendiri.

Berikut ini, kami sampaikan gancaran tembang Gambuh Serat Wedhatama dalam bahasa Jawa.

Gancaran Tembang Gambuh Serat Wedhatama Pada 16-20

PADA 16
Samengko kang tinutur,
sembah katri kang sayekti katur,
mring Hyang Sukma sukmanen sehari-hari,
arahen dipun kecakup,
sembah ing Jiwa sutengong.

GANCARAN PADA 16
mengko yen diajari,
sembah ketelu kang saktemen e di kanggoake,
kanggo hyang sukma utawa jiwa hayati saben dina,
tinujulah kanthi pikanthuk ,
sembah jiwa iki putraku.

ISINE PADA 16
Kemudian yang akan diajarkan, yaitu sembah ketiga sembah kepada Allah, sungguh-sungguhlah, raihlah supaya tercapai sembah Jiwa, anakku.
------------------------
PADA 17
Sayekti luwih prelu,
Ingaranan pepuntoning laku,
Kalakuan kang tumrap bangsaning batin,
Sucine lan Awas Emut,
Mring alame alam amot.

GANCARAN PADA 17
Tenan luwih penting,
Sing kasebut dadi pucuk ing dalan spiritual,
Tumindak olah batin,
Jaga sucining kanti awas lan mesti kelingan,
Karo alam kang awet.

ISINE PADA 17
Itu lebih pentig, disebut sebagai pokok laku, yaitu laku spiritual olah batin, 
Menjaga suci dengan selalu ingat, 
Kepada alam kekal
------------------------
PADA 18
Ruktine ngangkah ngukut,
ngiket ngrukut triloka kakukut,
jagad agung gimulung lan jagad cilik,
Den kandel kumandel kulup,
mring kelaping alam kono.

GANCARAN PADA 18
cara njaga kanthi nguasani,
njipuk ngikat ngrangkul telung jagad kang di kuasani,
jagad gedhe kalah karo jagad cilik,
gedheke kayakinan mu putraku,
karo kelaping alam kono.

ISINE PADA 18
Cara adalah dengan menjaga, ketiga jagad yang dikuasai, 
Jagad besar kalah dengan jagad kecil,
Pegang kuat keyakinanmu, Nak
Jangan kalah dengan gemerlap dunia.
------------------------
PADA 19
Keleme mawa limut,
Kalamatan jroning alam kanyut,
Sanyatane iku kanyatan kaki,
Sajatine yen tan emut,
Sayektine tan bisa awor.

GANCARAN  PADA 19
Ruweting kanthi peteng
Kagawa ora cethaning alam
Nyatane kuwi prakara nyata anane
Kanyatane yen ora ileng
Saktemene ora bisa awor

ISINE PADA 19
Yakni dunia yang gelap, hanyut dalam alam lamunan, itu nyata, Nak
Jika kalian tidak ingat,  
maka akan bercampur
------------------------
PADA 20
Pamete saka luyut,
sarwa sareh saliring panganyut,
lamun yitna kayitnan kang mitayani,
tarlen mung pribadinipun,
kang katon tinonton kono.

GANCARAN PADA 20
dalan metune saka luyut (batas antara e lahir lan batin),
tetep sabar melu ing “alam kang ngayuhake”,
asal ati ati lan waspada kang nuntas ake,
ora meng awak dewe,
seng ketok nang kono.

ISINE PADA 20
Jalan keluarnya, 
Tetap sabar dan pasrah
Asal hati-hati dan waspada serta percaya,
bukan hanya kita saja, yang bisa melihat tontonan di sana.
------------------------

Posting Komentar untuk "Parafrase/ Gancaran Tembang Gambuh Serat Wedhatama Pada 16 - 20"